Minggu, 05 April 2015

Pengaruh Inflasi Terhadap Pengangguran

Hubungan Antara pengangguran dan Inflasi 

Hubungan antara inflasi dan pengangguran banyak diperoleh dari hasil penelitian empiris di beberapa Negara. Amir (2008) melakukan penelitian tentang pengaruh inflasi terhadap pengangguran di Indonesia menggunakan data tahun 1980 hingga 2005. Dengan menggunakan metode OLS hasil penelitian beliau tidak berhasil memperoleh bukti adanya pengaruh inflasi terhadap pengangguran.
Kitov (2007) meneliti hubungan antara inflasi daan pengangguran di Jepang dengan menggunakan data pengangguran dan indeks harga konsumen Jepang tahun 1982 hingga 2006. Dengan menggunakan model regresi diperoleh kofisien regresi yang bernilai negative sebesar -0,94 dengan konstanta 0,0041. Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan antara inflasi dan pengangguran pada perekonomian Jepang. Berdasarkan uraian diatas Endang Setyowati menyimpulkan bahwa: ada hubungan kausal antara inflasi dengan pengangguran di Indonesia.


Gambar 1
Bagan Hubungan Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi dan Pengangguran

Screenshot_12
Tanda panah pada bagan menunjukkan pengaruh suatu variable terhadap variabel lain. Pengangguran berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi dan inflasi. Pertumbuhan ekonomi berpengaruh terhadap inflasi namun tidak berpengaruh pada pengangguran. Inflasi tidak berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi maupun pengangguran.

Jenis-Jenis Inflasi
 
Seperti yang kita ketahui, inflasi adalah gejala kenaikan harga barang-barang yang bersifat umum dan terus-menerus. Dari defenisi ini, ada tiga komponen yang menggambarkan bahwa telah terjadi inflasi, yaitu :
  1. Kenaikan Harga
  2. Bersifat Umum
  3. Berlangsung Secara Terus-Menerus
1)      Kenaikan Harga

Maksud dari kenaikan harga adalah bahwa harga suatu barang saat ini lebih mahal dari harga sebelumnya. Contohnya harga BBM minggu lalu sebesar Rp 35,00/ltr, sedangkan minggu ini harga BBM naik menjadi Rp 45,00/ltr.

2)      Bersifat Umum

Dikatakan bersifat umum karena kenaikan harga suatu barang tertentu diiikuti oleh kenaikan harga-harga lainnya. Misalnya jika harga BBM naik, maka kenaikan harga tersebut akan diikuti oleh naiknya harga barang lainnya.jadi  harga suatu barang itu sangat mempengaruhi.

3)      Berlangsung Secara Terus-Menerus

Naiknya harga suatu barang tidak bisa dikatakan inflasi jika harga barang tersebut hanya terjadi sesaat. Penghitungan inflasi dilakukan dalam rentang waktu minimal bulanan. Jika terjadi dalam waktu satu bulan akan terlihat apakah kenaikan harga bersifat umum dan terus-menerus.
Berdasarkan jenisnya inflasi dibagi menjadi empat, yaitu:
  1. Inflasi Ringan, terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun.
  2. Inflasi Sedang, antara 10% sampai 30% / tahun.
  3. Inflasi Berat, antara 30% sampai 100% /tahun.
  4. Hiperinflasi atau inflai sangat Berat, terjadi apabila lebih dari 100% /tahun.
  • Inflasi ringan: inflasi ini masih dapat dikendalikan karena harga-harga masih naik secara umum, dan belum mengakibatkan krisis dibidang ekonomi.
  • Inflasi sedang: belum membahayakan kegiatan ekonomi, tetapi inflasi ini dapat menurunkan kesejahteraan masyarakat yang mempunyai penghasilan yang tetap.
  • Inflasi berat: pada kondisi ini orang cenderung menyimpan barang. Ini menyebabkan seseorang tidak mau untuk menabung karena bunga bank lebih rendah dari laju tingkat inflasi.
  • Hiperinflasi: inflasi ini menyebabkan kondisi perekonomian susah dikendalikan walaupun telah dilakukan tindakan moneter dan tindakan fiscal.
Hubungan antara Tingkat Inflasi dan Tingkat Pengangguran
 
Indonesia merupakan salah satu Negara yang berkembang, salah satu masalah yang dihadapi Indonesia sampai saat ini yang belum ada solusinya yaitu pengangguran. Pengangguran merupakn salah satu masalah yang sangat kompleks karena mempengaruhi dan dipengaruhi oleh banyak factor yang saling berinteraksi mengikuti pola yang tidak selalu muda dipahami.
Inflasi merupakan suatu proses kenaikan harga-harga yang berlaku dalam suatu perekonomian, sedangkan tingkat inflasi adalah presentasi kenaikan harga-harga barang dalam periode waktu tertentu (Sadono Sukirno, 2005). Dengan semakin tingginya tingkat inflasi yang terjadi maka akan berakibat pada tingkat pertumbuhan ekonomi yang menurun sehingga akan terjadi peningkatan terhadap angka pengangguran.
Berikut ini salah satu hasil tingkat inflasi dan tingkat pengangguran di kota Magelang Tahun 2000-2010

Tabel 1
Tingkat Inflasi dan Tingkat Pengangguran
 Kota Magelang Tahun 2000-2010


Screenshot_7
   
  Sumber :BPS Kota Magelang 2000-2010

Table tersebut menunjukkan bahwa jika tingkat inflasi meningkat, maka tingkat pengangguran akan mengalami peningkatan juga. Tingkat inflasi berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat pengangguran.

Data Rata-Rata Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi, dan Pengangguran selama periode 1980 hingga 2010.
 
 Berikut ini data rata-rata pertumbuhan ekonomi dan laju inflasi per tahun selama periode 1980 hingga 2010:
Table 1

Screenshot_8
   
Deskripsi perkembangan pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan pengangguran selama periode penelitian di bagi ke dalam periode sebelum krisis moneter 1988, yaitu 1980-1997, pada saat krisis moneter tahun 1998, dan setelah krisis moneter tahun 1998, yaitu 1999-2010 seperti pada diatas. Data diatas menunjukkan baahwa pertumbuhan ekonomi rata-rata per tahun pada periode sebelum krisis moneter Indonesia lebih tinggi lagi dibandingkan dengan periode setelah krisis moneter.
Perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi rata-rata sebesar 6,31% per tahun, sedangkan pertumbuhan ekonomi rata-rata pada periode setelah krisis moneter mengalami perlambatan , yaitu sebesar 4,74% per tahun. Perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi negative sebesar 13,11% pada masa krisis moneter tahun 1998.
Laju inflasi di Indonesia cukup tinggi selama periode tahun 1980-2010, yaitu sebesar 10,45% rata-rata per tahun. Laju inflasi tertinggi terjadi pada masa periode 1998, yaitu sebesar 58%. Laju inflasi pada periode sebelum krisis moneter tahun 1998 relatif lebih rendah dibandingkan dengan periode setelah krisis. Laju inflasi pada masa sebelum krisis moneter pada tingkat 8,58%, sedangkan pada periode setelah krisis laju inflasi naik menjadi 9,31% rata-rata pertahun.
Tingkat pengangguran seebelum krisis moneter (1980-1997) relative rendah, yaitu 3,11%. Setelah krisis moneter periode 1999-2010 tingkat pengangguran meninggi sebesar 8,71% rata-rata per tahun. Tingkat pengangguran di Indonesia pada saat krisis moneter adalah sebesar 5,5%.

Gambar 1
Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi, 1980-2010
Screenshot_9
 Perkembangan pertumbuhan ekonomi dan tingkat penagngguran selama periode 1980-2010
 
Terlihat pada gambar 1 pertumbuhan ekonomi relative stabil selama periode 1980-2010, sedangkan laju inflasi sedikit berfluktuatif. Namun pada masa krisis moneter tahun 1998 bisa terlihat pergerakan antara pertumbuhan ekonomi dan laju inflasi berlawan arah. Pada masa tahun 1998, pertumbuhan ekonomi turun menjadi -13,1% sementara harga-harga melonjak sebesar 58% sebagai laju inflasi tertinggi.

Gambar 2
Screenshot_10
Pertumbuhan Ekonomi dan Pengangguran, 1980-2010

Selama periode penelitian, pertumbuhan ekonomi relative stabil, namun kemudian mengalami pertumbuhan negative pada tahun 1998. Pergerakan tingkat pengangguran cenderung naik dari tahun 19980, namun semenjak tahun 2006 hingga sekarang tingkat pengangguran mengalami perlambatan, sedangkan laju inflasi sedikit berfluaktif.

Gambar 3
Screenshot_11
Inflasi dan Pengangguran, 1980-2010

Nampak laju inflasi cenderung mengalami penurunan sedangkan tingkat pengangguran cenderung mengalami peningkatan.

Dampak Inflasi Terhadap Pengangguran
 
Pandangan tradisional tentang hubungan pengangguran negative antara inflasi dan pengangguran seperti yang digambarkan denagn kurva Philips berbeda dengan pandangan Friedman yang menyatakan bahwa inflasi memiliki pergerakan searah dengan pengangguran. Ketika harga barang dan jasa meningkat , pengangguran juga akan naik. Inflasi yang disebabkan oleh kenaikan biaya produksi akan mendorong perusahaan untuk mengurangi barang dan jasa yang diproduksi untuk mencapai tingkat produksi yang efisien. Dengan pengurangan tingkat produksi akan menyebabkan penggunaan factor produksi, termasuk tenaga kerja yang digunakan dalam kegiatan produksi akan berkurang. Hal ini akan meningkatkan pengangguran. Jadi kenaikan harga barang dan jasa akan meningkatkan pengangguran.
Suatu Negara pasti akan berusaha untuk menghentikan laju inflasi yang semakin meninggi, karena dengan meningginya inflas akan menciptakan pengangguran. Laju inflasi dengan tingkat pengangguran dapat dilihat dalam kurva Philips:

Gambar 4
Screenshot_13


Hubungan tingkat inflasi dengan tingkat pengangguran



Tidak ada komentar:

Posting Komentar